INFEKSI NOSOKOMIAL
A. Pengertian
Infeksi nasokomial adalah infeksi yang
tejadi pada seseorang pasien yang sedang dirawat atau berobat jalan di RS dan
waktu mulai dirawat tidak sedang dalam masa inkubasi suatu penyakit menular.
B.
Epidemiologi
Infeksi nosokomial
banyak terjadi di seluruh dunia dengan kejadian terbanyak di negara miskin dan
negara yang sedang berkembang karena penyakit – penyakit infeksi masih menjadi
penyebab utama. Suatu penelitian yang yang dilakukan oleh WHO menunjukkan bahwa
sekitar 8,7% dari 55 rumah sakit dari 14 negara yang berasal dari Eropa, Timur
Tengah, Asia Tenggara dan Pasifik tetap menunjukkan adanya infeksi nosokomial
dengan Asia Tenggara sebanyak 10,0% (Ducel, G, 2002). Walaupun ilmu pengetahuan
dan penelitian tentang mikrobiologi meningkat pesat pada 3 dekade terakhir dan
sedikit demi sedikit resiko infeksi dapat dicegah, tetapi semakin meningkatnya
pasien – pasien dengan penyakit immunocompromised, bakteri yang resisten
antibiotik, super infeksi virus dan jamur, dan prosedur invasif, masih
menyebabkan infeksi nasokomial menimbulkan kematian sebanyak 88.000 kasus
setiap tahunnya walaupun (Light RW, 2001).
C.
Cara Penularan
Infeksi Nasokomial
Cara penularan infeksi
nasokomial bisa berupa infeksi silang (Cross infection) yaitu disebabkan oleh
kuman yang didapat dari orang atau penderita lain di rumah sakit secara
langsung atau tidak langsung. Infeksi sendiri (Self infection, Auto infection)
yaitu disebabkan oleh kuman dari penderita itu sendiri yang berpindah tempat
dari satu jaringan ke jaringan yang lain. Infeksi lingkungan (Environmental
infection) yaitu disebabkan oleh kuman yang berasal dari benda atau bahan yang
tidak bernyawa yang berada di lingkungan rumah sakit. Misalnya lingkungan yang
lembab dan lain-lain (Depkes RI, 1995). Menurut Jemes H. Hughes dkk, yang
dikutip oleh Misnadiarli 1994, tentang model cara penularan, ada 4 cara
penularan infeksi nosokomial yaitu kontak langsung antara pasien dan personil
yang merawat atau menjaga pasien. Seterusnya, kontak tidak langsung ketika
objek tidak bersemangat/kondisi lemah dalam lingkungan menjadi kontaminasi dan
tidak didesinfeksi atau sterilkan, sebagai contoh perawatan luka paska operasi.
Selain itu, penularan cara droplet infection dimana kuman dapat mencapai ke
udara (air borne) dan penularan melalui vektor yaitu penularan melalui
hewan/serangga yang membawa kuman (Depkes RI, 1995).
D. Faktor
– faktor infeksi nasokomial
·
Faktor – faktor yang mempengaruhi terjadinya
infeksi nasokomial
-
Infeksi secara
langsung atau secara tidak langsung
Infeksi boleh terjadi
karena kontak secara langsung atau tidak langsung. Penularan infeksi ini dapat
tertular melalui tangan, kulit dan baju, yang disebabkan oleh golongan
staphylococcus aureus. Cairan yang diberikan secara intravena dan jarum suntik,
peralatan serta instrumen kedokteran boleh menyebabkan infeksi nosokomial.
Makanan yang tidak steril, tidak dimasak dan diambil menggunakan tangan yang
menyebabkan terjadinya cross infection (Babb, JR. Liffe, AJ, 1995, Ducel, G,
2002).
-
Resistensi
Antibiotika
Seiring dengan penemuan
dan penggunaan antibiotika penicillin antara tahun 1950 – 1970, kebanyakan
penyakit yang serius dan fatal ketika itu dapat diterapi dan disembuhkan.
Bagaimanapun keberhasilan ini menyebabkan penggunaan berlebihan dan
penyalahgunaan antibiotika. Maka banyak mikroorganisme yang kini menjadi lebih
resisten. Peningkatan resistensi bakteri dapat meningkatkan angka mortalitas
terutama pada pasien yang immunocompromised (Ducel, G, 2002). Penggunaan
antibiotika yang terus – menerus ini meningkatkan multiplikasi serta penyebaran
strain yang resisten.
Penyebab utamanya
adalah penggunaan antibiotika yang tidak sesuai dan tidak terkontrol, dosis
antibiotika yang tidak optimal, terapi dan pengobatan menggunakan antibiotika
yang terlalu singkat serta kesalahan diagnosa (Ducel, G, 2002). Infeksi nasokomial
sangat mempengaruhi angka morbiditas dan mortalitas di rumah sakit, dan menjadi
sangat penting karena:
1.
Meningkatnya jumlah penderita yang dirawat
2.
Seringnya
imunitas tubuh melemah karena sakit, pengobatan atau umur
3.
Mikroorganisme
yang baru (mutasi)
4.
Meningkatnya
resistensi bakteri terhadap antibiotika (Ducel, G, 2002)
- · Faktor – faktor
yang menentukan infeksi nasokomial
-
Virulensi kuman (kemampuan kuman untuk
berkembang biak)
Kuman – kuman phatogen biasanya
mempunyai kemampuan untuk mengadakan infeksi dan berkembang biak dalam tubuh
normal. Derajat kemampuan inilah yang biasanya menyebabkan infeksi nasokomial.
Beberapa mikoorganisme yang biasanya virulen pada seorang normal tetapi sewaktu
– waktu bisa phatogen bila daya tahan tubuh menurun.
-
Jumlah kuman yang masuk
Makin banyak jumlah kuman yang masuk
pada seseorang makin banyak kuman yang berkembang biak di dalam tubuh.
-
Lamanya kontak dengan penyebab infeksi
Lamanya kontak dengan penyebab infeksi
atau langsung, tubuh akan memberikan perlawanan terhadap infeksi. Apabila
organismenya sedikit akan tetapi bila mengadakan infeksi terus menerus dalam
jangka waktu yang lama akan memberikan resiko yang cukup lama.
-
Daya tahan tubuh
Kemampuan seseorang untuk melawan
infeksi dipengaruhi oleh mekanisme daya tahan tubuh dan keadaan kesehatan pada
umumnya.
-
Tempat yang rentan pada pasien
Kuman pertama menyerang jaringan harus
berada dalam sumsum dan tempat dengan suasana yang cocok untuk kemudian
berkembang biak.
Kuman – kuman yang sering menyebabkan infeksi
nasokomial:
Bakteri
|
Persentase (%)
|
Enterobacteriaceae
|
>40
|
S. aureus
|
11
|
Enterococcus
|
10
|
P. aeruginosa
|
9
|
Mikroorganisme
|
Persentase(%)
|
S. aureus, Staphylococci koagulase
negatif, Enterococci
|
34
|
E. coli, P. aeruginosa, Enterobacter
spp., & K. pneumonia
|
32
|
C. difficile
|
17
|
Fungi (kebanyakan C. Albicans)
|
10
|
Bakteri Gram negatif lain
(Acinetobacter, Citrobacter,Haemophilus)
|
7
|
E. Beberapa
infeksi nasokomial yang sering terjadi
1. Infeksi
Luka Operasi (ILO)
Merupakan infeksi yang terjadi dalam
kurun waktu 30 hari paska operasi jika tidak menggunakan implan atau dalam
kurun waktu 1 tahun jika terdapat implan dan infeksi tersebut memang tampak
berhubungan dengan operasi dan melibatkan suatu bagian anotomi tertentu
(contoh, organ atau ruang) pada tempat insisi yang dibuka atau dimanipulasi
pada saat operasi dengan setidaknya terdapat salah satu tanda :
-
Keluar cairan purulen dari drain organ
dalam
-
Didapat isolasi bakteri dari organ dalam
-
Ditemukan abses
-
Dinyatakan infeksi oleh ahli bedah atau
dokter.
2. Infeksi
Saluran Kencing (ISK)
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah jenis
infeksi yang sangat sering terjadi. ISK dapat terjadi di saluran ginjal
(ureter), kandung kemih (bladder), atau saluran kencing bagian luar (uretra).
Bakteri utama penyebab ISK adalah bakteri Escherichia coli (E. coli) yang
banyak terdapat pada tinja manusia dan biasa hidup di kolon. Wanita lebih
rentan terkena ISK karena uretra wanita lebih pendek daripada uretra pria
sehingga bakteri ini lebih mudah menjangkaunya. Infeksi juga dapat dipicu oleh
batu di saluran kencing yang menahan koloni kuman. Sebaliknya, ISK kronis juga
dapat menimbulkan batu.
3. Bakterimia
Bakterimia adalah keadaan dimana
terdapatnya bakteri yang mampu hidup dalam aliran darah secara sementara, hilang
timbul atau menetap. Bakterimia merupakan infeksi sistemik yang berbahaya
karena dapat berlanjut menjadi sepsis yang angka kematiannya cukup tinggi. Faktor
risiko terjadinya bakterimia pada orang dewasa antara lain lama perawatan di
rumah sakit, tingkat keparahan penyakit, komorbiditas, tindakan invasif, terapi
antibiotika yang tidak tepat, terapi imunosupresan, dan penggunaan steroid.
4. Infeksi
Saluran Napas (ISN)
Infeksi saluran napas berdasarkan
wilayah infeksinya terbagi menjadi infeksi saluran napas atas dan infeksi
saluran napas bawah. Infeksi saluran napas atas meliputi rhinitis, sinusitis,
faringitis, laringitis, epiglotitis, tonsilitis, otitis. Sedangkan infeksi
saluran napas bawah meliputi infeksi pada bronkhus, alveoli seperti bronkhitis,
bronkhiolitis, pneumonia.
Keadaan rumah sakit yang tidak baik
dapat menimbulkan infeksi saluran napas atas maupun bawah. Infeksi saluran
napas atas bila tidak diatasi dengan baik dapat berkembang menyebabkan infeksi
saluran nafas bawah. Infeksi saluran nafas atas yang paling banyak terjadi
serta perlunya penanganan dengan baik karena dampak komplikasinya yang
membahayakan adalah otitis, sinusitis, dan faringitis.
5. Intensive
care unit (ICU)
-
Dalam ICU dirawat pasien – pasien gawat
-
Pemberian antibiotic yang intensif
merangsang timbulnya kuman – kuman resisten
-
Dalam ICU banyak dipergunakan alat –
alat pendukung pengobatan
-
Perubahan flora pasien sering cepata
dalam ICU
6. Infeksi
cairan infuse dan tindakan intravaskuler
-
Kontaminasi karena kesalahan pembuatan
cairan infuse
- Kontaminasi sekunder karena
mikroorganisme masuk kedalam cairan infus tanpa disengaja (memasukan obat
kedalam infus)
-
Pemasangan tidak aseptic.
F. Upaya
pencegahan infeksi nasokomial
Pembersihan yang rutin
sangat penting untuk meyakinkan bahwa rumah sakit sangat bersih dan benar – benar
bersih dari debu, minyak dan kotoran. Perlu diingat bahwa sekitar 90 persen
dari kotoran yang terlihat pasti mengandung kuman. Harus ada waktu yang teratur
untuk membersihkan dinding, lantai, tempat tidur, pintu, jendela, tirai, kamar mandi,
dan alat-alat medis yang telah dipakai berkali-kali.
Pengaturan udara yang
baik sukar dilakukan di banyak fasilitas kesehatan. Usahakan adanya pemakaian
penyaring udara, terutama bagi penderita dengan status imun yang rendah atau
bagi penderita yang dapat menyebarkan penyakit melalui udara. Kamar dengan
pengaturan udara yang baik akan lebih banyak menurunkan resiko terjadinya
penularan tuberkulosis. Selain itu, rumah sakit harus membangun suatu fasilitas
penyaring air dan menjaga kebersihan. Pemrosesan serta filternya untuk
mencegahan terjadinya pertumbuhan bakteri. Sterilisasi air pada rumah sakit
dengan prasarana yang terbatas dapat menggunakan panas matahari.
Toilet rumah sakit juga
harus dijaga, terutama pada unit perawatan pasien diare untuk mencegah
terjadinya infeksi antar pasien. Permukaan toilet harus selalu bersih dan
diberi disinfektan. Disinfektan akan membunuh kuman dan mencegah penularan
antar pasien.
DAFTAR
PUSTAKA
0 komentar: